Disebuah Desa Dikabupaten Pati JATENG daerah selatan tahun 1997-an, ada seorang
Anak yatim yang kebingungan untuk melanjutkan sekolah setelah lulus dibangku
SLTP. Orangtuanya yang tinggal ibu satu-satunya hanya bisa pasrah melihat
keinginan anaknya yang menggebu-gebu kepengen sekolah. Ibarat kata bisa makan
untuk kesehariannya saja sudah sangat disyukurinya, karena selain dia masih ada
tiga adik lelakinya yang juga butuh biaya sekolah dan keseharianya. mereka masih
duduk dibangku SD dan yang satu mau masuk SMP.
Kepada tetangga ia bercerita bahwa dia pengen sekali melanjutkan
sekolah, hingga dia diberi informasi bahwa di Pati kota ada sebuah yayasan yang
bisa menyekolahkan anak yatim dengan imbalan jasa tenaga untuk membantu
pekerjaan dan usahanya. Dalam benaknya ia tak keberatan untuk melakukan
pekerjaan apapun yang halal asalkan bisa sekolah. Setelah alamat ia kantongi,
bocah 14 tahun itupun ahirnya pergi ke Kota yang berjarak kurang lebih 25 km-an
tanpa seorang teman dengan naik angkutan umum. Kepada kondektur dan sopir ia
bertanya dimana alamat itu berada dan meminta untuk memberitahunya setelah
sampai pada tujuannya.
Jam berdetak seiring dengan laju roda mobil angkutan yang ditumpangi
bocah tersebut. Hingga sampailah pada tempat yang sebelumnya belum pernah ia
tahu. Tampak seorang wanita separoh baya yang sedang mngarahkan anak asuhnya.
Dia adalah istri kepala yayasan tersebut. Dengan agak ragu dan takut, bocah itu
mendekati wanita tersebut dan menyampaikan maksud kedatangannya. Tanpa berfikir
panjang wanita itu mengatakan "maaf dek! yang kerja disini sudah cukup dan
sudah banyak orangnya" disela-sela ia berbincang dengan anak asuhnya.
"ya udah bu!, makasih.. permisi! Nyuwon pamit..! bocah itu berpamitan
sambil bersalaman. Wanita itu tampak acuh tak begitu menghiraukan. "Orang
lagi sibuk.. Tak kenal.. tak tahu siapa dia.. tiba-tiba datang sendirian..! iya kalau bocah bener
kalo nggak! bikin tambah masalah aja..!" mungkin itulah yang ada dipikiran
wanita itu dan kita semua pada umumnya. Dengan wajah yang kusut anak itupun
pulang membawa rasa kecewa.
Libur ahir tahun talah usai, masuk tahun ajaran baru telah tiba, namun
anak itu tetap dirumah menerima nasib untuk tidak sekolah. Pergi ke sawah
belajar bercocok tanam menjadi aktifitas keseharian bocah malang itu. Disela-
sela ia belajar bertani menanam padi, hasrat untuk melanjutkan sekolah juga
masih ia tanam didalam lubuk hatinya yang paling dalam selain do'a yang selalu
ia panjatkan. Tawaran pekerjaan dari tetangga dan saudara untuk ikut membantu
menanam dan memanen padi ia terima. Jatuh kepleset dan keseleo disawah sering
ia alami, karena beban di pundak yang melebihi batas kemampuan seorang bocah.
Yang terpenting bisa menghasilkan uang yang halal.
karena Pekerjaan disawah bersifat musiman, ia juga ikut belajar tukang
kayu ke tetangga yang mempunyai usaha pertukangan. Pekerjaan itu ia lakukan
atas dasar daripada nganggur, bukan yang menjadi hasrat dirinya. Hasrat dia
adalah mau jadi apapun besok, yang penting sekarang pengen bisa sekolah. Belajar tukang kayupun tak ia
lanjutkan setelah kecelakaan kerja menimpa dirinya. Jempol tangan kirinya
terkena kampak kayu hingga harus dijahit 6 jahitan. Bekas luka itu menjadi
bukti sejarah kehidupannya hingga sekarang, karena kuku yang tumbuh tak bisa
kembali normal seperti semula.
sedikit demi sedikit uang yang ia dapat ia kumpulkan. Ia ingin masuk
sekolah ditahun berikutnya. Niatnya semakin mantap ketika seorang temannya
memberikan kabar bahwa mulai tahun itu sampai dengan lima tahun kedepan ada
beasiswa JPS (jaringan pengaman sosial) untuk anak tidak mampu. Pada masa
pemerintahan Gus Dur waktu itu. Duit yang ia kumpulkan, ia gunakan untuk nyicil
beli celana abu-abu dan pramuka. Toh kalaupun nggak jadi sekolah celana masih
bisa dipakai. Setelah waktunya sampai dan positif mendaftar barulah ia beli
baju atasan/hemnya dan beli buku tulis.
Dengan diantar oleh temannya, ahirnya ia mendaftar di SLTA yang berjarak
7 km dari rumahnya, setelah setahun ia belajar dirumah dan disawah. Biaya
pendaftaran sudah di tanggung oleh
temennya, baju seragam dan buku tulis sudah dimilikinya,saatnya ia melanjutkan
perjuangannya.
Dengan sepeda buntut tanpa slebor, ia ayunkan setiap paginya. Ia
rela pergi belajar setiap harinya tanpa uang saku dari ibunya. Karena dari awal
sudah disampaikan ibunya, "kowe pengen sekolah yo sak karepem, asalkan
kowe iso nyukupi kebutuhanem dewe kanggo sekolah…! Aku ora iso biayai kowe,
isoku mung ndongak'ake…! (kamu pengen sekolah ya terserah kamu, asalkan kamu
bisa mencukupi kebuthuanmu sendiri untuk sekolah…! Aku nggak bisa membiayai
kamu, aku hanya bisa mendoakanmu..!) dengan bahasa jawa has pati yang identik
dengan "em" ibunya
menyampaikan. Ketika haus disekolah, terkadang ia harus menelan air keran untuk
menghilangkan rasa dahaganya.
Seminggu berlalu mulai muncul kebutuhan-kebutuhan baru. Ada iuran beli
baju olahraga, kebingunganpun melanda, ia hanya bisa memohon kepada yang kuasa
atas segala permasalahannya. Sesuatu yang tak disangka-sangka, ada saudaranya
yang pulang dari malaysia. Rumahnya yang brtahun-tahun ditinggalkan belum ada
lampunya. ia menyuruh bocah itu untuk membetulkan dan menambah instalasi
listrik dirumahnya dan juga pasang antena UHF untuk TV yang dibawa dari sana.
Inilah yang menjadi pintu rezki bocah itu untuk memenuhi kebutuhannya. Beberapa
hari kemudian ada lagi iuran beli buku LKS (lembar kerja siswa), karena untuk
buku pelajaran sudah ada pinjaman dari perpustakaan sekolah. Minta bantuan
kanan kiri, semua tertutup untuknya. Hanya ke ataslah ia bisa meminta, langsung
kepada sang pemilik Alam semesta. Ia tetap tegar untuk mengayunkan sepedanya,
pandangan kedepan melihat sesuatu yang berbeda. Ada lembaran uang kertas tergeletak
di jalan raya. Nilainya tak seberapa untuk orang yang berpunya, tapi ini amat
sangat berharga untuk bocah sepertia dia. Karena cukup untuk membayar buku LKS
yang dibutuhkannya.
Kabar berita tentang keahliannya memasang dan membetulkan instalasi
listrik terdengar ramai di kampungnya, hingga itu menjadi pintu rezki bocah itu
untuk mendapatkan uang saku. Untuk pembayaran bulanan, yang disebut dengan
SPP/BP3 ia mendapatkan beasiswa. Pernah suatu ketika beasiswa terlambat cairnya
hingga ujian semester tiba, hingga dia tidak mendapatkan kartu ujian semester.
Sudah menjadi peraturan sekolah, bahwa siswa yang belum lunas sppnya sampai
dengan bulan itu, tidak bisa mengikuti ujian semester. Bocah itupun menemukan
inisiatif, ia datangi rumah kepala sekolah, ia sampaikan maksudnya. Kepala
sekolah yang bijak memberikan lampiran kertas/memo yang beliau tandatangani
untuk diberikan ke bagian Tata Usaha(TU). Hari senin pagi ketika ujian belum
dimulai, ia ke ruangan TU dan memberikan surat itu. Dan kartu ujianpun ia
terima. Ahirnya ia bisa mengikuti ujian.
Musim penghujan telah tiba… dia bersama teman-temannya pulang dengan
mengendarai sepeda ontel buntutnya yang tanpa slebor itu, ditengah jalan
diantara sesawahan tiba2 hujan turun. Karena sudah kepalang tanggung, ia tetap
mengayunkan sepedanya untuk pulang. Ketika sampai dirumah, dia baru nyadar
kalau ternyata baju yang ia pakai selain basah, punggungnya juga kotor dengan
noda cipratan dari roda belakang. Dan itu adalah baju satu-satunya. Padahal besok
harus dipakai lagi, sehingga wktu itu juga ia harus mencucinya untuk dipakai
lagi besok paginya. Pagi telah tiba, tapi baju yang dijemur belum juga kering. Dalam
kondisi setengah basah ia tetap memakainya. Ia selalu berharap, dan pengen
banget beli baju seragam lagi untuk ganti jika keadaan seperti itu terulang
lagi.
Do'anya didengar oleh Yang Maha Memberi. Disuatu pagi dia bertemu dengan pak Parso seorang kepala sekolahnya. Beliau menyuruh bocah itu untuk kerumahnya. Begitu jam sekolahnya selesai, diapun bergegas kesana. Dan ternyata dia di beri seragam putih abu-abu baru satu setel. Dia tampak senang sekali, apa yang ia harapkan terkabul. Dia semakin akrab dengan kepala sekolahnya, Karena selain masih satu kampung ia juga sering menghadap ketika pak Parso butuh pijit. Ditambah jabatan ketua OSIS yang ia sandang setelah kelas dua yang mengharuskan ia untuk menghadap. Pak Parso sering memberikan uang saku untuk bocah itu. Ia sangat senang sekali menerimanya, karena memang ia sangat membutuhkannya.
Seragam putih abu-abu sudah memiliki dua setel, tapi untuk baju
seragam pramuka ia hanya memiliki satu setel. Ia berharap seragam pramuka juga
mempunyai ganti, jadi kalau seumpama hujannya hari Kamis Jum'at atau Sabtu, ia
juga punya baju ganti. Lagi-lagi sesuatu yang ia tak mampu membelinya Allah
berikan secara Cuma-Cuma. Ia ikut terpilih sebagai kontingen PERTIWANA DAERAH
(perkemahan bakti saka wanabakti) se- JATENG di wana wisata Baturraden Purwokerto
mewakili kabupaten Pati dan mendapatkan seragam pramuka gratis.
Setelah melalui perjuangan panjang, dengan berbagai rintangan dan
hambatan yang berhasil ia selesaikan, Alhamdulillah ia bisa lulus. Sebagai puncaknya,
pada acara perpisahan yang dihadiri seluruh siswa, wali murid kelas tiga, para
guru dan pengurus yayasan serta tamu undangan, ia mendapatkan tepuk tangan dari
semua yang hadir. Ucapan selamat dan juga pujianpun diberikan. Bukan berarti ia
menjadi juara rangking satu, tapi karena kata sambutan yang ia sampaikan mewakili teman-tamannya sangat
mengagumkan dan mengharukan untuk anak seusia dia. Ibunya yang ikut hadir
diacara tersebut, meneteskan air mata bangga. *Semoga bocah itu kelak bisa
memberikan kebanggan yang lain lagi kepada orang tuannya*.
Saya yakin masih banyak anak indonesia yang senasib dengan dia. Mereka
butuh uluran tangan/ bantuan kita, bukan dengan hanya senyuman saja. Mereka butuh
sosok seperti pak parso. Sudah selayaknya dan seharusnya kita selain kaya hati
juga kaya harta. Agar bisa membantu mereka. Marilah kita bersyukur dengan apa
yang sudah kita miliki dan bersama-sama
berdo'a semoga kita semua bisa. Untuk yang sudah kaya jangan pelit ilmunya,
mari kita belajar bersama-sama.
Cerita diatas adalah nyata, karena sayalah pelakunya. Terimakasih Pak Parso dan keluarga, semoga limpahan kasih sayang dan rahmatNya selalu tercurahkan untuknya. Amin..! semoga bermanfaat dan ada hikmahnya untuk para pembaca.
Yuk kita saling ingat mengingatkan dalam kebaikan. ingatkan saya di @Bang_tono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar