Rabu, 30 Mei 2012

DIBALIK KESULITAN PUNYA KEKUATAN



Saya berprinsip bahwa "Setelah saya lulus sekolah SMA  nanti, apapun yang terjadi dan hasilnya, saya tidak mau berdiam diri dirumah". Sehari setelah pengambilan ijazah, ahirnya saya ikut temanku yang kuliah di semarang untuk mencari kerja disana. Beberapa hari telah  saya lalui hingga menjadi minggu, pekerjaan belum juga saya dapatkan hingga seorang temanku yang satunya menyerah untuk pulang kampung. Karena waktu itu saya berangkat berdua dengan teman sekolahku yang seangkatan tapi lain jurusan.

Daripada nganggur, pekerjaan sebagai sales saya jalani, setelah pilah pilih yang lain nggak dapat juga. Sebulan pertama saya tidak bisa menjual satu barangpun, padahal gaji ditentukan dari besarnya omset penjualan. Saya tidak punya saudara maupun keluarga Di Semarang. Wilayahpun tidak mengenal, saya hanya menjual ketika ikut kanfas massal bersama teman-teman dengan membawa mobil perusahaan. Dan mencoba menawarkan kepada lingkungan kost. Elektronik dan Furniture cash and kredit product yang saya jual waktu itu.

Belum genap sebulan, saya harus ditinggal sendirian oleh temanku dan kedua temannya yang sama-sama kuliah. Karena liburan semester telah tiba. Saya tinggal di Kost empat orang, yang tiga kuliah dan yang satunya kerja yaitu "saya". Mau tidak mau saya harus menghidupi diri saya sendiri dengan UMT (uang makan dan transport) Rp 3500,- perhari ditahun 2002, karena saya belum mendapatkan gaji. Saya bilang ke ibu kost kalau saya ikut ngekost, tapi bayarnya ngutang dulu.. he he he.. *sambil pasang muka memelas*

Beras peninggalan temanku sudah mulai habis, uang tidak punya, sanak saudara tidak ada, ada teman sama-sama barunya. Hanya Tuhan yang saya punya, tampatku mengadu semuanya.disini kekuatan iman diuji. Saya mengumpulkan koin seratus perak yang tak berharga bagi teman saya, karena dilihat tempatnya  yang ketemu disini dan disana.saya belikan krupuk untuk lauk nasi dari beras terahir.saya pernah dicaci penjual nasi, karena duit yang saya punya ternyata kurang dari harganya. Saya pernah muntah-muntah tengah malam sendirian gara-gara satu hari dua malam nggak makan.

Ternyata benar adanya bahwa "Allah tidak akan memberiakan ujian kepada hambanya diluar batas kemampuannya". Ketika saya sudah mulai tidak mampu Dia berikan pertolongan lewat tangan-tangan manusia. Ibu kostku yang punya rental PS (play station), penjaganya minta libur untuk hari minggu. Sehingga saya diminta mengisi kekosongan itu. Saya dikasih makan dan bayaran sepuluh ribu sehari. Lumayan untuk menyambung hidup.

Dengan kesulitan-kesulitan itu membuat saya mendekat dengan Dia sang pencipta. Saya rajin sholat jamaah di Masjid. Setiap habis Magrib ada beberapa anak yang mengaji disitu. Karena yang ngajar juga lagi liburan semester 2 bulan, maka saya memberikan diri untuk mendekat dan mengajar mereka semampu saya. Setelah Ta'mir Masjid tahu, justru malah mereka memberikan amanat ke saya untuk terus mengajar tiap malam selama Guru yang sebenarnya liburan. Sesuatu yang tidak sangka sebelumnya, tiba-tiba dari bendahara Masjid menyodorkan amplop ke saya.

Dibalik kesulitan ternyata punya kekuatan karena iman. Kekuatan untuk bertahan dari rasa lapar, kekuatan untuk bersabar, kekutan untuk selalu dijalanNya. Tanpa Iman, tanpa keyakinan yang kuat bahwa Tuhan akan menolong saya, bisa saja saya bunuh diri waktu itu. Bisa saja saya mencuri waktu itu. Tapi Alhamdulillah saya mampu melewati semua itu dengan pertolonganNya.

Semoga kita semua senantiasa bisa menjaga dan membawa iman sampai ajal menjemput kita, apapun kondisinya. Tidak menggadaikan Iman dengan gemerlapnya dunia. Semoga Allah selalu melindungi kita untuk selalu di jalanNya... Amin..!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar