Selasa, 09 April 2013

Kepepet




Keadaan di Saudi sangat berbeda sekali dengan di Indonesia. Di Indonesia, disepanjang kota besar dan bahkan kota-kota kecil di kecamatanpun kita melihat banyak sekali pedagang nasi disepanjang jalan. Mulai dari nasi rames, nasi goring, nasi padang, nasi uduk, pecel lele, sate dan seabrek makanan lain yang menghiasi kota. Apalagi di lingkungan Mess sebuah perusahaan yang karyawannya mencapai ratusan orang, tentunya tak sulit untuk menemukan warung.

Dua ribu sepuluh silam ketika awal pertama kali kami datang kesaudi, kami sampai Di Mess (Jeddah) tengah malam sekitar jam sebelasan keatas. Tampak suasana sepi dari penghuni, pintu kamar tertutup menunjukkan bahwa penghuninya sudah pada terlelap. Kami yang baru tiba dari Indonesia, setelah melakukan perjalanan jauh merasakan perut lapar. Tak tahu harus kemana dan enggak bisa bagaimana ngomongnya kalau mau tanya, kami terpaksa menahan lapar hingga matahari muncul dengan sinarnya.

Pagi-pagi buta ketika kudengar adzan subuh, kulangkahkan kaki untuk ke Masjid. Kutatap diantara jamaah yang hadir. Tampak begitu banyak orang-orang yang berjenggot tebal. Yaitu orang-orang dari Yaman, Mesir, Hindia, Pakistan dan Negara-negara lain yang mayoritas dari mereka para lelaki dipenuhi bulu kumis dan jenggot. Tampak diantara mereka ada beberapa orang yang sebangsa, yaitu Indonesia.

Usai  sholat shubuh berjamaah kuberanikan diri untuk menyapanya. Setelah basa-basi menanyakan kabar dan perkenalan, kucoba bertanya tentang keadaan disini, “kalau makan bagaimana dan dimana?, karena kami semua satu kamar orang baru, ngomong bahasa arab enggak bisa. perutnya pada lapar bingung!”.  He he he…
Hubus dan lauknya, bekel buat makan siang teman orang Hindia

Dia bilang klo disini semua pada masak sendiri, enggak ada istilah makan jajan kayak di Indonesia. Saya dikasih tau kalau dibagala (mini market) ada hubus, yaitu sejenis roti berbentuk bulat tipis dengan diameter kurang lebih 25 cm. dengn harga satu real perbungkus dan isinya tiga. “Cukup murah jika kamu doyan” begitu katanya. Tanpa fikir panjang, aku minta tolong kepadanya untuk mengantarkan ketempat yang dimaksud.

Aku beli dua bungkus dan aku bawa pulang kekamar. Semua teman sekamar yang berjumlah sepuluh orang, semuanya aku bangunin untuk mencicipi makanan asing yang sebelumnya belum pernah ditemuinya itu. Ada yang bilang kayak bekatul! dan lain sebagainya. Dan ternyata, ibarat Di Indonesia itu adalah sperti nasi, jadi masih butuh lauk pauk untuk memakannya.

Memang dasar perut dan mulut Indonesia, dikasih makan hubus kok tetap masih ada yang kurang.  Jadi istilah “sama-sama makan nasi” kurang laku disini, karena mereka makan Hubus. Ha ha ha…  Aku jalan lagi, mencoba mencari nomor kamar yang tadi diberitahukannya, dengan maksud mencari solusi atas permasalahan “perut yang complain”. Ahirnya kamar ketemu, tetapi orangnya tidak ada karena sudah berangkat kerja.

Tidak ada suatu pengorbanan yang sia-sia. Allah mempertemukan aku dengan yang lain. Dia mengajak aku kekamarnya dan menyuguhi beberapa makanan yang mereka punya. Kebetulan ada salah satu teman mereka yang lagi sakit, sehingga tidak masuk kerja. Aku disuruh mengajak teman-temanku kesitu. karena kami tidak mau merepotkannya lebih banyak, kami hanya pinjam peralatan dapurnya untuk memasak indomie  yang kami beli sendiri.

Setelah siang kami semua dikumpulkan dalam satu ruangan untuk meeting, melakukan persiapan dan agenda selanjutya yaitu medical (cek kesehatan) ulang sebagaimana yang pernah dilakukan di indonesia sebelum berangkat. Sebelum acara dimulai kami sempet ngobrol dengan teman-teman yang lain yang berbeda kamar. Ternyata sebagian mereka ada yang makan indomie yang dimasak dibawah terik matahari. Kebetulan kata mereka yang sudah lama disini, sudah dua harian panasnya sangat menyengat.

Ketika kami menanyakan bagaimana caranya, mereka bilang “indomie dibuka, dikasih air di ikat dan dijemur”. Apa bisa mateng? “yah namanya juga kepepet, yah anget-anget setengah mateng gitu” jawabnya sambil pada ketawa dan saling becanda.

Mungkin itulah uniknya kepepet, menimbulkan reaksi yang berbeda dari satu permasalahan yang sama. Ada yang mencari bantuan, sebagian mengeluarkan kreatifitasnya untuk melakukan eksperimen baru, ada yang berdiam diri dengan menahan rasa lapar, dan ada juga yang mengikuti/meniru apa yang telah dilakukan oleh temannya.

Apa yang akan sahabat lakukan dan termasuk kelompok yang mana jika “kepepet” terjadi pada kalian? Apapun yang sahabat lakukan tetaplah lakukan yang positif dan halal, agar Tuhan meridhoinya. Aamiin…!

5 komentar:

  1. Balasan
    1. mengabadikan cerita kenangan kita. he he he.. mau tk kasih gmbar hubus tpi aq gk pnya file-nya. tolong donk! dikirimin klo km pnya gmbrnya, bwt pelengkap artikel ini.

      Hapus
  2. Salam TKi Mas.Apa kabar?

    Wah,blognya terus update ya bang,terima kasih sudah berbagi di sini.Salam silaturahmi,salam persahabatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah masih dalam lindungan-NYA. Mohon do'a n Tips-nya kang, biar bisa konsisten nulis kayak sampean. salam Ukhwah..

      Hapus
  3. JOIN NOW !!!
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.site
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    8 Pasaran Togel Terbaik Bosku
    Joker Slot, Sabung Ayam Dan Masih Banyak Lagi Boskuu
    BURUAN DAFTAR!
    MENYEDIAKAN DEPOSIT VIA PULSA TELKOMSEL / XL
    DOMPET DIGITAL OVO, DANA, LINK AJA DAN GOPAY
    UNTUK KEMUDAHAN TRANSAKSI , ONLINE 24 JAM BOSKU
    dewa-lotto.site

    BalasHapus